DOMINO99 - Keunikan Para Tunarungu ini mempunyai Bakat menjadi Penjahit di Kelas Internasional
DOMINO99 - Keunikan Para Tunarungu ini mempunyai Bakat menjadi Penjahit di Kelas Internasional
DOMINO99 - Untuk berkomunikasi, mereka hanya menggunakan isyarat. Tapi meski memiliki keterbatasan dalam pendengaran dan wicara, mereka telah membuktikan diri mampu menciptakan karya busana berskala internasional.
Raut wajah yang awet muda membuat Sri Indriani atau Ninik tak terlihat seperti seorang penjahit yang telah berkarya selama 20 tahun.
Kecintaan keduanya dalam membuat pakaian dan gaun telah membuat mereka bertahan menekuni profesi sebagai penjahit.
Baru-baru ini, Ninik dan ketujuh temannya dalam komunitas Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia) wilayah Jabodetabek mendapat kesempatan untuk memamerkan karya mereka di panggung catwalk Jakarta Modest Fashion Week (JMFW) 2018.
Perempuan berkacamata ini mengutarakan ia pernah bekerja di perusahaan garmen. Namun, sejak mengundurkan diri dari perusahaan itu, dirinya praktis hanya menjahit dan membuat baju untuk pangsa pasar rumah tangga.
Terlibat dalam JMFW dengan melihat karyanya diperagakan oleh model sesama penyandang disabilitas dari berbagai negara, menurutnya, menjadi kesempatan langka.
Kegembiraan senada diungkapkan oleh Puput, penjahit tunarungu yang telah membuat pakaian selama 9 tahun.
Kesempatan yang didapatkan para perempuan komunitas Gerkatin ini berawal dari sosok Franka Soeria, yang merupakan pendiri label Markamarie dan Jakarta Modest Fashion Week.
"Awalnya kami mau buat CSR [tanggung jawab sosial dari sebuah perusahaan], lalu terpikir kenapa enggak sekalian melibatkan teman-teman difabel?," ujarnya yang kini menetap di Turki.
Lewat seorang rekannya, Franka kemudian menemukan perempuan penjahit dari komunitas Gerkatin dan niatan itupun lalu berkembang.
Franka Soeria, pendiri JMFW, fasilitasi penjahit bisu tuli untuk berkarya.
Franka tak memungkiri, dengan produksi skala rumah tangga yang biasa dilakukan, Ninik dan rekan-rekannya membutuhkan penyesuaian.
Tapi proyek tersebut, menurutnya, dilakukan sejalan dengan kemampuan mereka.
"Sebenarnya lewat proyek ini kita ingin memberdayakan. Tapi kita juga enggak mau terlalu nge-push mereka sampai mereka-nya capek."
"Jadi memang kita tanya dulu. Misalnya, "Ibu-ibu apa mampunya kira-kira satu hari berapa pieces?" Nah dari situ baru kita akomodir. Karena kami mau mereka mengerjakan pekerjaan ini dengan senang hati," ungkap mantan jurnalis tersebut.
DOMINO99 - Keunikan Para Tunarungu ini mempunyai Bakat menjadi Penjahit di Kelas Internasional
DOMINO99 - Untuk berkomunikasi, mereka hanya menggunakan isyarat. Tapi meski memiliki keterbatasan dalam pendengaran dan wicara, mereka telah membuktikan diri mampu menciptakan karya busana berskala internasional.
Raut wajah yang awet muda membuat Sri Indriani atau Ninik tak terlihat seperti seorang penjahit yang telah berkarya selama 20 tahun.
Kecintaan keduanya dalam membuat pakaian dan gaun telah membuat mereka bertahan menekuni profesi sebagai penjahit.
Baru-baru ini, Ninik dan ketujuh temannya dalam komunitas Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia) wilayah Jabodetabek mendapat kesempatan untuk memamerkan karya mereka di panggung catwalk Jakarta Modest Fashion Week (JMFW) 2018.
Perempuan berkacamata ini mengutarakan ia pernah bekerja di perusahaan garmen. Namun, sejak mengundurkan diri dari perusahaan itu, dirinya praktis hanya menjahit dan membuat baju untuk pangsa pasar rumah tangga.
Terlibat dalam JMFW dengan melihat karyanya diperagakan oleh model sesama penyandang disabilitas dari berbagai negara, menurutnya, menjadi kesempatan langka.
Kegembiraan senada diungkapkan oleh Puput, penjahit tunarungu yang telah membuat pakaian selama 9 tahun.
Kesempatan yang didapatkan para perempuan komunitas Gerkatin ini berawal dari sosok Franka Soeria, yang merupakan pendiri label Markamarie dan Jakarta Modest Fashion Week.
"Awalnya kami mau buat CSR [tanggung jawab sosial dari sebuah perusahaan], lalu terpikir kenapa enggak sekalian melibatkan teman-teman difabel?," ujarnya yang kini menetap di Turki.
Lewat seorang rekannya, Franka kemudian menemukan perempuan penjahit dari komunitas Gerkatin dan niatan itupun lalu berkembang.
Franka Soeria, pendiri JMFW, fasilitasi penjahit bisu tuli untuk berkarya.
Franka tak memungkiri, dengan produksi skala rumah tangga yang biasa dilakukan, Ninik dan rekan-rekannya membutuhkan penyesuaian.
Tapi proyek tersebut, menurutnya, dilakukan sejalan dengan kemampuan mereka.
"Sebenarnya lewat proyek ini kita ingin memberdayakan. Tapi kita juga enggak mau terlalu nge-push mereka sampai mereka-nya capek."
"Jadi memang kita tanya dulu. Misalnya, "Ibu-ibu apa mampunya kira-kira satu hari berapa pieces?" Nah dari situ baru kita akomodir. Karena kami mau mereka mengerjakan pekerjaan ini dengan senang hati," ungkap mantan jurnalis tersebut.



Tidak ada komentar