DOMINO99 - Indonesia Darurat Hoax dan Berita Palsu
Indonesia Darurat Hoax dan Berita Palsu
DOMINO99 - Dengan akses tanpa henti ke berbagai konten pada jam apapun setiap hari, internet dan media sosial telah menjadi lingkungan yang sempurna untuk berkembangnya hoax. Menurut sebuah studi baru-baru ini dari MIT, berita palsu dapat beredar setidaknya 10 kali lebih cepat daripada fakta yang sebenarnya. Mengingat intensitas persaingan di antara berbagai kanal media online, lingkungan ini mendorong reportase gaya umpan klik (clickbait) dan mengorbankan standar jurnalisme.
“Indonesia sedang menghadapi darurat hoax,” kata Maura ketika ditanya tentang tantangan negara. Bagi Maura, seorang mahasiswa sarjana di Jakarta, situasi darurat hoax bahkan mengalahkan bahaya terorisme. “Saya rasa tidak ada media yang dapat dipercaya,” kata mahasiswa lain, Umi, di Makassar, Sulawesi.
Ketidakpercayaan yang mendalam terhadap media meluas di antara mahasiswa perguruan tinggi saat ini yang merupakan angkatan tertua generasi digital native yang lahir pada tahun 1995 dan sesudahnya, yang disebut Jean M. Twenge sebagai “iGen.” Alasan utama ketidakpercayaan mereka ialah bias politik media secara terang-terangan.
“Berbagai media di Indonesia begitu terpolarisasi,” keluh Lukas.
Bulan April 2019, Indonesia bersiap berbondong-bondong mendatangi tempat pemungutan suara. Pilpres 2019 kan menjadi ajang rerun bagi kandidat presiden petahana Joko “Jokowi” Widodo dan rivalnya pada pilpres 2014 silam, Prabowo Subianto. Terdapat peluang tinggi kegagalan dalam menarik perhatian pemilih muda seperti Maura dan pemuda sebayanya, yang tampak muak oleh politisasi media.
Pada tahun 2014, jumlah pemilih antara usia 17 dan 25 menyumbang sekitar 30 persen dari 190 juta pemilih yang berhak mencoblos di Indonesia. Lahir di era teknologi digital, pengetahuan dan sikap politik generasi mereka semakin dibentuk oleh jejaring online tempat mereka berkutat setiap hari. Terlepas dari potensi internet dan media sosial untuk meningkatkan keterlibatan sipil, pemilih muda Indonesia tenggelam dalam arus informasi, iklan online, dan pesan kampanye politik.
Setelah meninggalkan media arus utama, banyak dari pemuda tersebut sekarang sangat bergantung pada jaringan pribadi untuk mendapatkan informasi, yang sering dilihat di media sosial dan tidak lagi dapat diandalkan. Pada saat yang sama, mereka merasa gelisah karena tidak siap untuk mengidentifikasi dan menyaring berita palsu.
GENERASI DIGITAL NATIVE INDONESIA
Dunia pemuda berpendidikan universitas di Indonesia dicirikan oleh kejenuhan media digital. Tahun 2017, Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) menemukan bahwa 49,5 persen pengguna internet berusia 19 hingga 34 tahun, dan mayoritas mengakses internet di ponsel mereka. Rata-rata orang Indonesia menghabiskan sekitar tiga jam setiap hari untuk berselancar di dunia maya menggunakan smartphone. Tahun 2014, ada lebih banyak pemilik ponsel pintar daripada pemegang rekening bank di Indonesia.
Dengan akses tanpa henti ke berbagai konten pada jam apapun setiap hari, internet dan media sosial telah menjadi lingkungan yang sempurna untuk berkembangnya hoax. Menurut sebuah studi baru-baru ini dari MIT, berita palsu dapat beredar setidaknya 10 kali lebih cepat daripada fakta yang sebenarnya. Mengingat intensitas persaingan di antara berbagai kanal media online, lingkungan ini mendorong reportase gaya umpan klik (clickbait) dan mengorbankan standar jurnalisme.
Sementara itu, lanskap media di Indonesia telah dipolitisasi dan dikomersialkan secara besar-besaran di era pasca-reformasi. Para pelajar yang diwawancarai di Jakarta dan Makassar terlalu muda untuk mengingat masa kepemimpinan mantan Presiden Suharto selama 32 tahun yang tiba-tiba berakhir pada tahun 1998. Kebanyakan dari mereka hanya memiliki pengetahuan yang samar tentang iklim politik, termasuk kurangnya kebebasan pers, yang mendominasi generasi orang tua mereka yang tumbuh di bawah Orde Baru (1966-1998).
Namun, mereka dapat dengan seketika menyebutkan nama-nama pemilik stasiun televisi untuk menunjukkan, dengan jijik, bahwa hampir setiap kanal media besar di Indonesia dikendalikan oleh pengusaha yang beralih menjadi politisi: TVOne oleh Aburizal Bakrie, MetroTV oleh Surya Paloh, serta RCTI, MNC TV, Global TV, dan iNews oleh Hary Tanoesoedibjo.
Strategi umpan klik memang terbuktu dapat meningkatkan jumlah pemirsa untuk sementara sehingga para maestro media dapat mengambil manfaat dengan menggunakan siaran dan jaringan online mereka untuk memajukan ambisi politik mereka. Sayangnya, strategi tersebut juga berisiko menghancurkan kepercayaan publik terhadap media. Para mahasiswa telah menunjukkan kecaman kuat terhadap kanal berita tradisional, yang cenderung mereka hindari demi mencari sumber informasi dari media sosial dan jejaring pribadi mereka.
POLITISASI MEDIA
“Saya tidak menonton TV, jujur saja, terutama bukan beritanya karena sangat tidak netral,” Maura mengeluh dengan jijik.
Demikian juga, Dina menunjukkan bahwa RCTI “bersikeras untuk melaporkan tentang Hary Tanoe,” pemegang saham mayoritas RCTI dan kandidat wakil presiden 2014 yang ambisi politiknya belum memudar. “Kadang-kadang ketika saya menonton [RCTI] secara tidak sengaja,” kata Dina, berhati-hati untuk menegaskan bahwa dia tidak pernah sengaja menyaksikan stasiun televisi tersebut, “Saya merasa mereka mengubah hal-hal membosankan menjadi berita. Jadi saya tidak ingin menonton. Misalnya, dia akan membagikan barang amal atau mengunjungi orang-orang di pasar.”
Bukan hanya acara berita yang biasa. Program hiburan pun juga dipolitisasi.
“Pernah ada sinetron [sinetron] di RCTI, kan?” Jelas Dina, “Dan Wiranto sering, misalnya, menjadi pemeran cameo untuk mempromosikan dirinya sendiri.”Wiranto adalah seorang mantan kandidat presiden lainnya dan pasangan Tanoe pada pencalonan pilpres 2014.
“Berkat grup MNC, saya sekarang jarang menonton saluran beritanya, iNews. Jika saya menonton televisi, saya hanya menonton acara olahraga. MetroTV dan TVOne juga seperti itu.”
Menurut para pelajar tersebut, tindakan para pemilik media dalam menunjukkan kepentingan dan agenda politik mereka terlalu vulgar untuk diabaikan. Banyak anak muda yang menganggap media arus utama sebagai sumber kebohongan dan ketidakpercayaan tersebut telah menyebabkan beberapa orang beralih ke sumber informasi lain, beberapa dari mereka bahkan kurang dapat dipercaya.
HOAX, FAKTA, DAN ALGORITMA
“Hoax sekarang merajalela,” keluh Ina, mahasiswi jurusan Komunikasi di Makassar. Tahun 2016, Kementerian Komunikasi dan Informatika menemukan 800 ribu situs internet yang bertanggung jawab menyebarkan berita palsu dan ujaran kebencian. Terlepas dari upaya agresif oleh pemerintah untuk menghapus berbagai situs tersebut, mereka tetap bertahan. Ratusan situs baru muncul setiap hari menggunakan nama yang berbeda karena mereka dapat memperoleh keuntungan besar dari iklan digital tanpa perlu modal untuk menyewa editor, wartawan, dan sebagainya.
Dalam setahun, situs berita palsu di internet dapat menghasilkan ratusan juta rupiah dengan menarik jutaan pengguna mengakses laman mereka. Di negara dengan 130 juta pengguna media sosial aktif, masyarakat Indonesia tidak dapat melarikan diri dari paparan informasi palsu setiap hari di Internet.
Namun, terkadang ketidakpercayaan mereka terhadap lanskap media yang dipolitisasi menyebabkan para pemuda untuk menyatukan jurnalisme yang lemah dengan berita palsu yang sengaja diproduksi untuk mencari laba. Ina mengklaim bahwa dia pernah melihat salah satu jaringan penyiaran terbesar menyiarkan segmen berita yang menurutnya adalah “jelas sebuah kebohongan.”
Jaringan itu, kata Ina, menuduh 212 demonstrasi berubah “anarkis.” Pawai “anti-Ahok” pada tanggal 2 Desember 2017 di mana sekitar setengah juta orang turun ke jalanan Jakarta menuntut agar gubernur Basuki Tjahaja “Ahok” Purnama, dengan latar belakang Kristen China, diselidiki untuk kasus penistaan agama. Ina mengatakan jaringan berita itu melaporkan bahwa orang-orang “menginjak rumput dan membuang sampah.”
Ina, di sisi lain, mengatakan keberadaan video di instagram yang dengan jelas menunjukkan bahwa “tidak ada masalah seperti itu di lapangan.” Dia juga mengingat bahwa ada lebih banyak kanal media yang melaporkan melalui media sosial bahwa “tidak ada masalah.” Ina menyimpulkan bahwa jaringan tersebut adalah “sarang hoax.”
Dalam memverifikasi informasi, beberapa pelajar tampak menyamakan popularitas dengan akurasi. Ina menekankan bahwa sementara jaringan itu hanya memperlihatkan satu foto kekacauan, ada banyak foto yang menunjukkan bahwa kekacauan seperti itu tidak terjadi. Beberapa pemuda lainnya mengandalkan popularitas informasi di dalam jaringan pribadi mereka sebagai indikasi akurasi, seperti bertanya kepada teman apakah mereka telah membaca berita yang sama.
Yang lain, seperti Rizal, dapat membandingkan laporan oleh satu kanal media dengan media lain atau, dalam kolom opini, membandingkan dengan salah satu forum diskusi terbesar di Indonesia, Kaskus, untuk melihat apakah orang lain telah menyatakan pendapat yang sama.
MENGANDALKAN MEDIA SOSIAL
Untuk asupan berita mereka, banyak mahasiswa mengatakan mereka mengandalkan Line Today (berita yang dikurasi dalam aplikasi obrolan Line) atau fitur Explorer di Instagram. Keduanya didorong oleh algoritme yang menampilkan “berita” yang saat ini paling populer, paling mirip dengan cerita yang sebelumnya diklik pengguna, atau telah diunggah oleh akun yang diikuti oleh pengguna. Oleh karena itu, mereka dapat bertindak sebagai ruang gema (echo chamber) dengan mendorong kembali berita yang mencerminkan pandangan pengguna sendiri kepada mereka. Tetapi para pelajar sangat jarang menyadari efek ruang gema ini.
Mereka yang mengandalkan Line Today dan Instagram Explorer, tidak mengherankan, cenderung tidak fokus pada pentingnya kredibilitas sumber informasi. Rizal menyatakan, “Saya sering membuka Instagram, dan saya mengikuti semua akun tentang fakta, bukan? Dan jika itu tentang sejarah, saya akan mencoba untuk memeriksanya di Google."
Jika rata-rata Google mengatakan A, saya akan menyimpulkan bahwa itu benar.” Rizal juga dengan yakin menyatakan, “Tujuh puluh persen dari akun yang saya ikuti adalah tentang fakta, sains, atau sejarah.” Dia menyiratkan bahwa akun yang dia ikuti menyajikan pengetahuan yang lebih substansial daripada akun yang diikuti rekan-rekannya.
Namun, akun Instagram yang diikuti Rizal nyatanya memberikan sekadar informasi sepele.
Misalnya, akun @wowfakta hanya melakukan kurasi gambar yang disertai dengan teks pendek yang diambil dari situs berita di internet, termasuk banyak di antaranya dengan standar jurnalistik rendah. Akun tersebut tidak berusaha melakukan verifikasi terhadap kredibilitas informasi atau sumber aslinya. Kurator akun juga anonim, sehingga pengikut tidak dapat menilai kredibilitas mereka.
Meski begitu, @wowfakta telah memiliki lebih dari 6 juta pengikut dengan mereproduksi konten online dalam format singkat yang dapat dengan mudah dicerna oleh pengguna media sosial dalam hitungan detik.
KREDIBILITAS SUMBER
Beberapa pelajar, tentu saja, memiliki perbedaan yang jelas antara hoax dan berita, dan sering membedakan lebih lanjut antara sumber berita non-hoax yang mereka anggap bisa dipercaya, maupun yang tidak. Maura, misalnya, bergantung pada media arus media untuk tetap mengkiuti perkembangan berita. Namun, dalam hal analisis masalah, Maura beralih ke Tirto.id, yang dikenal karena laporannya yang mendalam, atau Kumparan, “kanal media berita kolaboratif.”
Meskipun merupakan pemain baru di sektor media Indonesia, Tirto dan Kumparan dengan cepat meraih popularitas di kalangan pembaca berita online karena liputan berita non-partisan mereka, yang sangat kontras dengan media utama. Maura percaya bahwa “analisis yang baik” ditandai dengan tidak adanya “sentimen” atau bias emosional, dan kemampuan untuk “benar-benar memecahkan masalah” dari berbagai perspektif.
Ali, mahasiswa jurusan ekonomi di Makassar, menjelaskan bahwa ia kadang-kadang memeriksa fakta-fakta yang disajikan oleh siaran saluran berita dengan langsung mengecek sumbernya, seperti situs internet lembaga pemerintah atau organisasi lain yang bersangkutan. Ali memiliki gagasan yang jelas dan spesifik tentang bagaimana menilai kredibilitas informasi.
SEMUA BERITA ADALAH BERITA PALSU?
Terlepas dari mereka yang melek teknologi dan percaya diri akan sumber informasi online, beberapa pemuda tampaknya mengalami kesulitan dalam menilai kredibilitas, terlalu sering terpengaruh oleh popularitas yang dirasakan berdasarkan algoritme berita, dan pendapat individu di lingkaran sosial mereka sendiri.
Sementara sebagian besar pelajar sangat sadar akan bias politik dari berbagai kanal berita, banyak di antara mereka yang benar-benar sangat skeptis terhadap semua media. Ketika ditanya apakah masih ada media yang menurutnya kredibel, Rima menjawab, “Saya bahkan tidak benar-benar mempercayai media di kampus saya. Dan bahkan jurnal [ilmiah], saya tidak cukup memercayai mereka.”
Yang mengkhawatirkan, penelitian telah menunjukkan bahwa mereka yang sangat tidak percaya dengn media kurang mampu membedakan antara berita faktual dan berita palsu.
Sebaliknya, mereka seperti Maura dan Asman, yang percaya diri dalam kemampuan mereka sendiri untuk menilai kredibilitas sumber informasi, lebih cenderung mempercayai beberapa media yang dipilih, alih-alih tidak mempercayai semuanya satupun. Meski begitu, Maura mengaku bahwa dia menentang keputusan pengaturan terhadap media karena dia takut akan kembali ke kontrol pemerintah yang kuat terhadap kebebasan pers seperti selama era Orde Baru kepada kru KartuLudo
“Jika pemerintah mulai ikut campur dalam media,” kata Maura, “itu malah akan menjadi bumerang terhadap pemerintah karena orang-orang akan berpikir mereka menghalangi demokrasi.”
Erosi kepercayaan dalam media berita arus utama yang dikombinasikan dengan kesulitan anak muda dalam memverifikasi sumber media lain merupakan hal yang memprihatinkan. Ketika rezim Orde Baru jatuh pada tahun 1998, Indonesia bersemangat menjunjung tinggi kebebasan media untuk perannya dalam memberikan pemeriksaan kewenangan dalam demokrasi baru.
Tetapi anak-anak muda yang berpaling dari media berita menghalangi mereka untuk mengembangkan perspektif kritis dan berkontribusi untuk menciptakan debat publik yang kuat, meskipun itu bukan hanya kesalahan anak muda. Dengan tidak adanya pendidikan yang ketat dalam analisis kritis, politisasi media yang mencolok untuk keuntungan finansial dan politik akan menimbulkan dampak yang harus segera diatasi.
Danau Tanu (@danautanu) adalah peneliti honorer di School of Social Sciences di University of Western Australia, dan penulis buku Growing Up in Transit: The Politics of Belonging di International School.
Levriana Yustriani (levriana.yustriani@gmail.com) adalah peneliti yang berbasis di Jakarta dengan minat pada media baru, pemuda, dan politik. Levriana juga menerima Australia Awards dengan gelar Master di Global Media Communications dari University of Melbourne.
Indonesia Darurat Hoax dan Berita Palsu
| Indonesia Darurat Hoax dan Berita Palsu |
“Indonesia sedang menghadapi darurat hoax,” kata Maura ketika ditanya tentang tantangan negara. Bagi Maura, seorang mahasiswa sarjana di Jakarta, situasi darurat hoax bahkan mengalahkan bahaya terorisme. “Saya rasa tidak ada media yang dapat dipercaya,” kata mahasiswa lain, Umi, di Makassar, Sulawesi.
Ketidakpercayaan yang mendalam terhadap media meluas di antara mahasiswa perguruan tinggi saat ini yang merupakan angkatan tertua generasi digital native yang lahir pada tahun 1995 dan sesudahnya, yang disebut Jean M. Twenge sebagai “iGen.” Alasan utama ketidakpercayaan mereka ialah bias politik media secara terang-terangan.
“Berbagai media di Indonesia begitu terpolarisasi,” keluh Lukas.
Bulan April 2019, Indonesia bersiap berbondong-bondong mendatangi tempat pemungutan suara. Pilpres 2019 kan menjadi ajang rerun bagi kandidat presiden petahana Joko “Jokowi” Widodo dan rivalnya pada pilpres 2014 silam, Prabowo Subianto. Terdapat peluang tinggi kegagalan dalam menarik perhatian pemilih muda seperti Maura dan pemuda sebayanya, yang tampak muak oleh politisasi media.
Pada tahun 2014, jumlah pemilih antara usia 17 dan 25 menyumbang sekitar 30 persen dari 190 juta pemilih yang berhak mencoblos di Indonesia. Lahir di era teknologi digital, pengetahuan dan sikap politik generasi mereka semakin dibentuk oleh jejaring online tempat mereka berkutat setiap hari. Terlepas dari potensi internet dan media sosial untuk meningkatkan keterlibatan sipil, pemilih muda Indonesia tenggelam dalam arus informasi, iklan online, dan pesan kampanye politik.
Setelah meninggalkan media arus utama, banyak dari pemuda tersebut sekarang sangat bergantung pada jaringan pribadi untuk mendapatkan informasi, yang sering dilihat di media sosial dan tidak lagi dapat diandalkan. Pada saat yang sama, mereka merasa gelisah karena tidak siap untuk mengidentifikasi dan menyaring berita palsu.
GENERASI DIGITAL NATIVE INDONESIA
Dunia pemuda berpendidikan universitas di Indonesia dicirikan oleh kejenuhan media digital. Tahun 2017, Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) menemukan bahwa 49,5 persen pengguna internet berusia 19 hingga 34 tahun, dan mayoritas mengakses internet di ponsel mereka. Rata-rata orang Indonesia menghabiskan sekitar tiga jam setiap hari untuk berselancar di dunia maya menggunakan smartphone. Tahun 2014, ada lebih banyak pemilik ponsel pintar daripada pemegang rekening bank di Indonesia.
Dengan akses tanpa henti ke berbagai konten pada jam apapun setiap hari, internet dan media sosial telah menjadi lingkungan yang sempurna untuk berkembangnya hoax. Menurut sebuah studi baru-baru ini dari MIT, berita palsu dapat beredar setidaknya 10 kali lebih cepat daripada fakta yang sebenarnya. Mengingat intensitas persaingan di antara berbagai kanal media online, lingkungan ini mendorong reportase gaya umpan klik (clickbait) dan mengorbankan standar jurnalisme.
Sementara itu, lanskap media di Indonesia telah dipolitisasi dan dikomersialkan secara besar-besaran di era pasca-reformasi. Para pelajar yang diwawancarai di Jakarta dan Makassar terlalu muda untuk mengingat masa kepemimpinan mantan Presiden Suharto selama 32 tahun yang tiba-tiba berakhir pada tahun 1998. Kebanyakan dari mereka hanya memiliki pengetahuan yang samar tentang iklim politik, termasuk kurangnya kebebasan pers, yang mendominasi generasi orang tua mereka yang tumbuh di bawah Orde Baru (1966-1998).
Namun, mereka dapat dengan seketika menyebutkan nama-nama pemilik stasiun televisi untuk menunjukkan, dengan jijik, bahwa hampir setiap kanal media besar di Indonesia dikendalikan oleh pengusaha yang beralih menjadi politisi: TVOne oleh Aburizal Bakrie, MetroTV oleh Surya Paloh, serta RCTI, MNC TV, Global TV, dan iNews oleh Hary Tanoesoedibjo.
Strategi umpan klik memang terbuktu dapat meningkatkan jumlah pemirsa untuk sementara sehingga para maestro media dapat mengambil manfaat dengan menggunakan siaran dan jaringan online mereka untuk memajukan ambisi politik mereka. Sayangnya, strategi tersebut juga berisiko menghancurkan kepercayaan publik terhadap media. Para mahasiswa telah menunjukkan kecaman kuat terhadap kanal berita tradisional, yang cenderung mereka hindari demi mencari sumber informasi dari media sosial dan jejaring pribadi mereka.
POLITISASI MEDIA
“Saya tidak menonton TV, jujur saja, terutama bukan beritanya karena sangat tidak netral,” Maura mengeluh dengan jijik.
Demikian juga, Dina menunjukkan bahwa RCTI “bersikeras untuk melaporkan tentang Hary Tanoe,” pemegang saham mayoritas RCTI dan kandidat wakil presiden 2014 yang ambisi politiknya belum memudar. “Kadang-kadang ketika saya menonton [RCTI] secara tidak sengaja,” kata Dina, berhati-hati untuk menegaskan bahwa dia tidak pernah sengaja menyaksikan stasiun televisi tersebut, “Saya merasa mereka mengubah hal-hal membosankan menjadi berita. Jadi saya tidak ingin menonton. Misalnya, dia akan membagikan barang amal atau mengunjungi orang-orang di pasar.”
Bukan hanya acara berita yang biasa. Program hiburan pun juga dipolitisasi.
“Pernah ada sinetron [sinetron] di RCTI, kan?” Jelas Dina, “Dan Wiranto sering, misalnya, menjadi pemeran cameo untuk mempromosikan dirinya sendiri.”Wiranto adalah seorang mantan kandidat presiden lainnya dan pasangan Tanoe pada pencalonan pilpres 2014.
“Berkat grup MNC, saya sekarang jarang menonton saluran beritanya, iNews. Jika saya menonton televisi, saya hanya menonton acara olahraga. MetroTV dan TVOne juga seperti itu.”
Menurut para pelajar tersebut, tindakan para pemilik media dalam menunjukkan kepentingan dan agenda politik mereka terlalu vulgar untuk diabaikan. Banyak anak muda yang menganggap media arus utama sebagai sumber kebohongan dan ketidakpercayaan tersebut telah menyebabkan beberapa orang beralih ke sumber informasi lain, beberapa dari mereka bahkan kurang dapat dipercaya.
HOAX, FAKTA, DAN ALGORITMA
“Hoax sekarang merajalela,” keluh Ina, mahasiswi jurusan Komunikasi di Makassar. Tahun 2016, Kementerian Komunikasi dan Informatika menemukan 800 ribu situs internet yang bertanggung jawab menyebarkan berita palsu dan ujaran kebencian. Terlepas dari upaya agresif oleh pemerintah untuk menghapus berbagai situs tersebut, mereka tetap bertahan. Ratusan situs baru muncul setiap hari menggunakan nama yang berbeda karena mereka dapat memperoleh keuntungan besar dari iklan digital tanpa perlu modal untuk menyewa editor, wartawan, dan sebagainya.
Dalam setahun, situs berita palsu di internet dapat menghasilkan ratusan juta rupiah dengan menarik jutaan pengguna mengakses laman mereka. Di negara dengan 130 juta pengguna media sosial aktif, masyarakat Indonesia tidak dapat melarikan diri dari paparan informasi palsu setiap hari di Internet.
Namun, terkadang ketidakpercayaan mereka terhadap lanskap media yang dipolitisasi menyebabkan para pemuda untuk menyatukan jurnalisme yang lemah dengan berita palsu yang sengaja diproduksi untuk mencari laba. Ina mengklaim bahwa dia pernah melihat salah satu jaringan penyiaran terbesar menyiarkan segmen berita yang menurutnya adalah “jelas sebuah kebohongan.”
Jaringan itu, kata Ina, menuduh 212 demonstrasi berubah “anarkis.” Pawai “anti-Ahok” pada tanggal 2 Desember 2017 di mana sekitar setengah juta orang turun ke jalanan Jakarta menuntut agar gubernur Basuki Tjahaja “Ahok” Purnama, dengan latar belakang Kristen China, diselidiki untuk kasus penistaan agama. Ina mengatakan jaringan berita itu melaporkan bahwa orang-orang “menginjak rumput dan membuang sampah.”
Ina, di sisi lain, mengatakan keberadaan video di instagram yang dengan jelas menunjukkan bahwa “tidak ada masalah seperti itu di lapangan.” Dia juga mengingat bahwa ada lebih banyak kanal media yang melaporkan melalui media sosial bahwa “tidak ada masalah.” Ina menyimpulkan bahwa jaringan tersebut adalah “sarang hoax.”
Dalam memverifikasi informasi, beberapa pelajar tampak menyamakan popularitas dengan akurasi. Ina menekankan bahwa sementara jaringan itu hanya memperlihatkan satu foto kekacauan, ada banyak foto yang menunjukkan bahwa kekacauan seperti itu tidak terjadi. Beberapa pemuda lainnya mengandalkan popularitas informasi di dalam jaringan pribadi mereka sebagai indikasi akurasi, seperti bertanya kepada teman apakah mereka telah membaca berita yang sama.
Yang lain, seperti Rizal, dapat membandingkan laporan oleh satu kanal media dengan media lain atau, dalam kolom opini, membandingkan dengan salah satu forum diskusi terbesar di Indonesia, Kaskus, untuk melihat apakah orang lain telah menyatakan pendapat yang sama.
MENGANDALKAN MEDIA SOSIAL
Untuk asupan berita mereka, banyak mahasiswa mengatakan mereka mengandalkan Line Today (berita yang dikurasi dalam aplikasi obrolan Line) atau fitur Explorer di Instagram. Keduanya didorong oleh algoritme yang menampilkan “berita” yang saat ini paling populer, paling mirip dengan cerita yang sebelumnya diklik pengguna, atau telah diunggah oleh akun yang diikuti oleh pengguna. Oleh karena itu, mereka dapat bertindak sebagai ruang gema (echo chamber) dengan mendorong kembali berita yang mencerminkan pandangan pengguna sendiri kepada mereka. Tetapi para pelajar sangat jarang menyadari efek ruang gema ini.
Mereka yang mengandalkan Line Today dan Instagram Explorer, tidak mengherankan, cenderung tidak fokus pada pentingnya kredibilitas sumber informasi. Rizal menyatakan, “Saya sering membuka Instagram, dan saya mengikuti semua akun tentang fakta, bukan? Dan jika itu tentang sejarah, saya akan mencoba untuk memeriksanya di Google."
Jika rata-rata Google mengatakan A, saya akan menyimpulkan bahwa itu benar.” Rizal juga dengan yakin menyatakan, “Tujuh puluh persen dari akun yang saya ikuti adalah tentang fakta, sains, atau sejarah.” Dia menyiratkan bahwa akun yang dia ikuti menyajikan pengetahuan yang lebih substansial daripada akun yang diikuti rekan-rekannya.
Namun, akun Instagram yang diikuti Rizal nyatanya memberikan sekadar informasi sepele.
Misalnya, akun @wowfakta hanya melakukan kurasi gambar yang disertai dengan teks pendek yang diambil dari situs berita di internet, termasuk banyak di antaranya dengan standar jurnalistik rendah. Akun tersebut tidak berusaha melakukan verifikasi terhadap kredibilitas informasi atau sumber aslinya. Kurator akun juga anonim, sehingga pengikut tidak dapat menilai kredibilitas mereka.
Meski begitu, @wowfakta telah memiliki lebih dari 6 juta pengikut dengan mereproduksi konten online dalam format singkat yang dapat dengan mudah dicerna oleh pengguna media sosial dalam hitungan detik.
KREDIBILITAS SUMBER
Beberapa pelajar, tentu saja, memiliki perbedaan yang jelas antara hoax dan berita, dan sering membedakan lebih lanjut antara sumber berita non-hoax yang mereka anggap bisa dipercaya, maupun yang tidak. Maura, misalnya, bergantung pada media arus media untuk tetap mengkiuti perkembangan berita. Namun, dalam hal analisis masalah, Maura beralih ke Tirto.id, yang dikenal karena laporannya yang mendalam, atau Kumparan, “kanal media berita kolaboratif.”
Meskipun merupakan pemain baru di sektor media Indonesia, Tirto dan Kumparan dengan cepat meraih popularitas di kalangan pembaca berita online karena liputan berita non-partisan mereka, yang sangat kontras dengan media utama. Maura percaya bahwa “analisis yang baik” ditandai dengan tidak adanya “sentimen” atau bias emosional, dan kemampuan untuk “benar-benar memecahkan masalah” dari berbagai perspektif.
Ali, mahasiswa jurusan ekonomi di Makassar, menjelaskan bahwa ia kadang-kadang memeriksa fakta-fakta yang disajikan oleh siaran saluran berita dengan langsung mengecek sumbernya, seperti situs internet lembaga pemerintah atau organisasi lain yang bersangkutan. Ali memiliki gagasan yang jelas dan spesifik tentang bagaimana menilai kredibilitas informasi.
SEMUA BERITA ADALAH BERITA PALSU?
Terlepas dari mereka yang melek teknologi dan percaya diri akan sumber informasi online, beberapa pemuda tampaknya mengalami kesulitan dalam menilai kredibilitas, terlalu sering terpengaruh oleh popularitas yang dirasakan berdasarkan algoritme berita, dan pendapat individu di lingkaran sosial mereka sendiri.
Sementara sebagian besar pelajar sangat sadar akan bias politik dari berbagai kanal berita, banyak di antara mereka yang benar-benar sangat skeptis terhadap semua media. Ketika ditanya apakah masih ada media yang menurutnya kredibel, Rima menjawab, “Saya bahkan tidak benar-benar mempercayai media di kampus saya. Dan bahkan jurnal [ilmiah], saya tidak cukup memercayai mereka.”
Yang mengkhawatirkan, penelitian telah menunjukkan bahwa mereka yang sangat tidak percaya dengn media kurang mampu membedakan antara berita faktual dan berita palsu.
Sebaliknya, mereka seperti Maura dan Asman, yang percaya diri dalam kemampuan mereka sendiri untuk menilai kredibilitas sumber informasi, lebih cenderung mempercayai beberapa media yang dipilih, alih-alih tidak mempercayai semuanya satupun. Meski begitu, Maura mengaku bahwa dia menentang keputusan pengaturan terhadap media karena dia takut akan kembali ke kontrol pemerintah yang kuat terhadap kebebasan pers seperti selama era Orde Baru kepada kru KartuLudo
“Jika pemerintah mulai ikut campur dalam media,” kata Maura, “itu malah akan menjadi bumerang terhadap pemerintah karena orang-orang akan berpikir mereka menghalangi demokrasi.”
Erosi kepercayaan dalam media berita arus utama yang dikombinasikan dengan kesulitan anak muda dalam memverifikasi sumber media lain merupakan hal yang memprihatinkan. Ketika rezim Orde Baru jatuh pada tahun 1998, Indonesia bersemangat menjunjung tinggi kebebasan media untuk perannya dalam memberikan pemeriksaan kewenangan dalam demokrasi baru.
Tetapi anak-anak muda yang berpaling dari media berita menghalangi mereka untuk mengembangkan perspektif kritis dan berkontribusi untuk menciptakan debat publik yang kuat, meskipun itu bukan hanya kesalahan anak muda. Dengan tidak adanya pendidikan yang ketat dalam analisis kritis, politisasi media yang mencolok untuk keuntungan finansial dan politik akan menimbulkan dampak yang harus segera diatasi.
Danau Tanu (@danautanu) adalah peneliti honorer di School of Social Sciences di University of Western Australia, dan penulis buku Growing Up in Transit: The Politics of Belonging di International School.
Levriana Yustriani (levriana.yustriani@gmail.com) adalah peneliti yang berbasis di Jakarta dengan minat pada media baru, pemuda, dan politik. Levriana juga menerima Australia Awards dengan gelar Master di Global Media Communications dari University of Melbourne.





Tidak ada komentar